hemidactylus frenatus versus crocodylus porosus
(baca: hemidactylus frenatus - crocodylus porosus)
Logo gerakan popular itu sungguh mencengangkan, yang pada satu sisi ironis dan memilukan. Diilustrasikan hemidactylus frenatus dalam kontras warna merah, yang membentuk komposisi yang berhadapan dengan crocodylus porosus dengan warna hitam.
Komposisi ini sangat indah, hingga mengingatkan pada sebuah Xintian Taiji atau yin ying yu, yang diperkenalkan oleh Lai Dzide ahli Taoisme lebih dari lima ratus tahun yang lalu. Lambang ini, kemudian dikenal dikenal di masyarakat Indonesia dengan sebutan lambang yin – yang, dipopulerkan oleh film-film kungfu mandarin yang seringkali di dubbing secara paksa, sehingga setelah kalimat “kakak chen!” - atau “brother chen!” dlm subtitle inggris- selesai, bibir sang tokoh utama masih bergerak dengan liar menyelesaikan kalimat dalam bahasa aslinya.
Secara terminologi, yin dan yang dapat dipahami sebagai negatif dan positif. Segala sesuatu bersifat dualisme yang terdiri dari dua hal tersebut. Itu berarti tidak mungkin ada segala sesuatu tanpa keseimbangan. Karena tanpa keseimbangan, segala sesuatu tidak akan bisa saling melengkapi. Maka yang hadir adalah keinginan untuk saling melenyapkan, yang seharusnya bahkan tidak akan pernah berani mereka pikirkan, bila mereka sadar bahwa mereka adalah satu. Yang satu tidak akan bisa hidup, tanpa yang lainnya.
Logo gerakan yang sedang naik daun itu - terlepas dari apa yang mereka perjuangkan oleh gerakan itu sendiri - adalah sebuah indikator yang menunjukkan kecenderungan untuk mengadu dua hal yang berbeda, dan bukannya menyatukannya. Sehingga semua menjadi sekedar monolog, bukan dialog yang lebih berpotensi mencapai keseimbangan. Dalam dialog, tindakan aktif dihadapi dengan tindakan pasif, ofensif dihadapi dengan defensif, bicara dihadapi dengan mendengar, saling melengkapi dan secara konsisten dan konsekuen saling bertukar peran. Bukannya saling teriak, tanpa ada yang mau mendengar.
Pada awalnya kehidupan berasal dari ketiadaan, apakah itu gelap yang kelam sehingga tidak ada satu cahaya pun yang memantul pada ketiadaan itu. Ataukah itu adalah cahaya mutlak sehingga tidak ada ketiadaan yang mampu menampakkan bayangan dan wujud dirinya diantara terang itu. Tetapi kita yang hidup di dalamnya, seharusnya memahami bahwa segala sesuatu menjadi ada karena keseimbangan.
Kegelapan yang cukup untuk menampilkan bayangan, sehingga kita ada. Atau cahaya yang cukup untuk memantulkan wujud kita, sehingga kita ada. Kita ada, karena hadir lewat negatif dan positif yang seimbang. Yang menghadirkan kita pada titik nol. Tidak kurang, tidak lebih. nol.. kosong.. yang juga adalah isi..
- menyarankan agar setiap penggunaan tanda vs didunia seharusnya diganti dengan tanda hubung - , kecuali untuk pertandingan bola, lomba matematika, dan kegiatan berguna lainnya -
with permission from the author
No comments:
Post a Comment